Untuk Anda Yang Menjadi Guru

guru-hebat-2

Menjadi guru adalah pilihan hidup Anda. Terlepas apa latar belakang Anda memilih profesi ini. Yang paling penting adalah bagaimana latar depan Anda.

Anda, Allah takdirkan untuk menjadi arsitek pembangunan sebuah generasi. Anda terpilih untuk menginspirasi anak-anak didik Anda untuk menjadi orang-orang hebat di masanya.

Anda tidak perlu berpikir bagaimana hasilnya nanti. Prosesnya boleh jadi lama dan berliku.

Prosesnya boleh jadi tidak mudah. Tapi yakinlah, proses itu menjadikan Anda semakin dewasa. Semakin matang. Semakin mulia dalam pandangan Allah SWT.

Tataplah anak-anak Anda hari ini. Mereka adalah anak-anak hebat. Mereka adalah calon-calon pemimpin.

Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada adalah anak yang butuh dimotivasi untuk lebih giat berlatih. Tidak ada anak yang nakal. Yang ada adalah anak yang butuh perhatian dan kasih sayang.

Semua anak-anak Anda adalah anak-anak hebat. Semua punya karakter yang unik. Berbeda-beda. Bukankah lagu yang indah dari sebuah orkestra lahir dari berbagai macam alat musik dan suara yang berbeda-beda?

Anda adalah guru-guru hebat. Dan Anda layak melahirkan kelas hebat dan anak-anak yang hebat.

Selamat menciptakan orkestra kelas yang menyenangkan.

Salam Sukses Mulia.

 

M. Furqon Zahidi

Inspirator Guru Hebat

 

 

Bila Anda Bimbang Tanyalah Hati Anda

bila-anda-bimbang-tanyalah-hati-anda

Lidah boleh bisa bersilat lidah. Lidah bisa mengatakan yang salah menjadi benar, yang benar menjadi salah. Gestur tubuh juga bisa mengatakan yang tidak sebenarnya. Wajah mungkin bisa dibungkus dengan topeng kejujuran. Topeng kewibawaan. Topeng-topeng kepalsuan yang penuh dengan rekayasa. Tetapi ada yang tidak bisa Anda bohongi. Ada yang akan selalu mengatakan kejujuran. Mengatakan suara kebenaran. Siapa dia? Hati Anda. Ya Hati Anda. Dia akan mengatakan apa yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

Hati Anda akan membimbing Anda untuk tetap berada dalam jalan ilahi. Hati Anda akan memberitahu Anda ketika Anda tergelincir ke jalan sesat. Hati Anda akan menjawab pertanyaan Anda bila Anda bimbang dengan jalan yang Anda tempuh.

Nabi SAW bersabda kepada Wabishoh, “Wahai Wabishoh, bertanyalah kepada hatimu, bertanyalah kepada jiwamu- Nabi katakan sebanyak tiga kali-. Kebaikan adalah apa yang hati merasa tenteram melakukannya. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan” [HR Ahmad no 18035, dinilai al Albani berkualitas hasan li ghairihi].

Apakah semua hati akan seperti itu? Tentu saja hati yang tidak tertutup oleh noda-noda kesombongan akan seperti itu. Ia akan cemas dan khawatir melakukan sesuatu yang menurut orang mungkin baik tetapi sebenarnya perbuatan yang buruk dalam pandangan Allah SWT. Sebaliknya ia akan merasa tenang dan tentram ketika Anda melakukan kebaikan.

Boleh jadi hati mengatakan kebenaran tapi Anda tidak mengikutinya. Sangat mungkin. Saat itu Anda mengabaikan suara hati Anda. Anda menutupi dengan kebahagiaan dan kebanggaan akan apa yang ada lakukan. Bukankah orang-orang yang memusuhi Nabi bahkan akan membunuh Nabi sesungguhnya mereka mengakui bahwa Nabi adalah orang yang jujur. Apa yang disampaikan oleh Nabi bukan ucapan Nabi. Mereka merasakan kebenaran itu. Hati mereka tetap jujur walau di abaikan.

Simak saja kisah Abu Jahal, salah seorang pemuka Arab yang sangat membenci Islam, yang secara diam-diam mencuri dengar alunan bacaan Alquran di rumah Nabi SAW. Ia merasa ia takjub dengan bacaan Alquran. Hatinya merasa tenang dan tentram. Kemudian Allah pertemukan dengan dua orang temannya yang juga melakukan hal yang sama. Mereka merasa malu satu sama lain. Mereka berjanji untuk tidak mengulangi. Tetapi ternyata kejadian tersebut berulang sampai tiga kali. Hati memang tidak bisa dibohongi. Walau kadang tertutup oleh rasa gengsi dan kesombongan.

Jadi kalau Anda bimbang tentang sesuatu. Apakah benar atau salah. Bertanya kepada orang. Mencari rujukan dan referensi. Tentu langkah yang lebih baik. Akan tetapi cara yang mudah adalah tanyalah kepada hati Anda. Setidaknya fatwa pertama yang bisa Anda dapatkan adalah dari hati Anda. ***