Bila Anda Bimbang Tanyalah Hati Anda

bila-anda-bimbang-tanyalah-hati-anda

Lidah boleh bisa bersilat lidah. Lidah bisa mengatakan yang salah menjadi benar, yang benar menjadi salah. Gestur tubuh juga bisa mengatakan yang tidak sebenarnya. Wajah mungkin bisa dibungkus dengan topeng kejujuran. Topeng kewibawaan. Topeng-topeng kepalsuan yang penuh dengan rekayasa. Tetapi ada yang tidak bisa Anda bohongi. Ada yang akan selalu mengatakan kejujuran. Mengatakan suara kebenaran. Siapa dia? Hati Anda. Ya Hati Anda. Dia akan mengatakan apa yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

Hati Anda akan membimbing Anda untuk tetap berada dalam jalan ilahi. Hati Anda akan memberitahu Anda ketika Anda tergelincir ke jalan sesat. Hati Anda akan menjawab pertanyaan Anda bila Anda bimbang dengan jalan yang Anda tempuh.

Nabi SAW bersabda kepada Wabishoh, “Wahai Wabishoh, bertanyalah kepada hatimu, bertanyalah kepada jiwamu- Nabi katakan sebanyak tiga kali-. Kebaikan adalah apa yang hati merasa tenteram melakukannya. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan” [HR Ahmad no 18035, dinilai al Albani berkualitas hasan li ghairihi].

Apakah semua hati akan seperti itu? Tentu saja hati yang tidak tertutup oleh noda-noda kesombongan akan seperti itu. Ia akan cemas dan khawatir melakukan sesuatu yang menurut orang mungkin baik tetapi sebenarnya perbuatan yang buruk dalam pandangan Allah SWT. Sebaliknya ia akan merasa tenang dan tentram ketika Anda melakukan kebaikan.

Boleh jadi hati mengatakan kebenaran tapi Anda tidak mengikutinya. Sangat mungkin. Saat itu Anda mengabaikan suara hati Anda. Anda menutupi dengan kebahagiaan dan kebanggaan akan apa yang ada lakukan. Bukankah orang-orang yang memusuhi Nabi bahkan akan membunuh Nabi sesungguhnya mereka mengakui bahwa Nabi adalah orang yang jujur. Apa yang disampaikan oleh Nabi bukan ucapan Nabi. Mereka merasakan kebenaran itu. Hati mereka tetap jujur walau di abaikan.

Simak saja kisah Abu Jahal, salah seorang pemuka Arab yang sangat membenci Islam, yang secara diam-diam mencuri dengar alunan bacaan Alquran di rumah Nabi SAW. Ia merasa ia takjub dengan bacaan Alquran. Hatinya merasa tenang dan tentram. Kemudian Allah pertemukan dengan dua orang temannya yang juga melakukan hal yang sama. Mereka merasa malu satu sama lain. Mereka berjanji untuk tidak mengulangi. Tetapi ternyata kejadian tersebut berulang sampai tiga kali. Hati memang tidak bisa dibohongi. Walau kadang tertutup oleh rasa gengsi dan kesombongan.

Jadi kalau Anda bimbang tentang sesuatu. Apakah benar atau salah. Bertanya kepada orang. Mencari rujukan dan referensi. Tentu langkah yang lebih baik. Akan tetapi cara yang mudah adalah tanyalah kepada hati Anda. Setidaknya fatwa pertama yang bisa Anda dapatkan adalah dari hati Anda. ***

Lakukan Saja, Pada Saatnya Keajaiban akan Menyapamu

padang-pasir

Ingatkan Anda pada kisah Hajar-ibunda Nabi Ismail a.s. Kala itu ia begitu iba melihat sang buah hati yang masih bayi kehausan. Ia pun berusaha mencari air ke bukit shafa karena ia melihat seolah ada air di sana. Ia berlari kecil ke atah bukit tersebut. Tetapi yang ia lihat ternyata tidak tampak. Ia pun kembali melihat ada air di bukit marwa. Ia pun berlari kecil ke arah bukit itu. Pun demikian, tak ada sesuatu pun yang ia temui. Terus menerus ia bolak-balik antara bukit shafa dan marwa. Tidak berputus asa. Ia yakin Allah swt akan menolongnya. Ia harus mendapatkan air untuk sang Buah hati, ismail kecil yang sedang kehausan.

Bolak-balik antara bukit shafa dan Marwa ia lakukan. Terus menerus. Karena ia melihat sebuah harapan. Ia melihat sebuah keyakinan. Bahwa Allah SWT akan menolongnya. Allah tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuannya.

Upaya itu bukan tanpa kesulitasn. Panasnya padang pasir. Jalan yang juga tidak mudah ia lewati. Ditambah keterbatasan yang ia meiliki sebagai seorang perempuan. Dan jumlah tujuh balik bukan angka target untuk mendapatkan pertolongan Allah. Setelah tujuh balik itu kondisinya sudah demikian lemah. Tenaga sudah habis. Upaya yang sudah berada pada titik maksimal yang bisa ia lakukan. Di saat itulah kemudian Allah memberikan pertolongan. Keluarlah air dari bawah kaki Ismail kecil, putra yang disayanginya.

Apa pelajaran dari kisah ini.

Pertama, Harapan. Itulah energi yang mampu mendorong langkah Ibunda Hajar dalam menembus medan yang berat. Harapan akan mendapatkan air yang untuk buah hatinya. Harapan, mimpi atau visi harus selalu ada dalam hidup kita. Jangan pernah risau jika dalam tidur kita tidak bermimpi tapi risaulah ketika kita bangun kita tidak mempunyai mimpi. Mimpi atau visi harus selalu tertanam. Ia akan memberikan energi dahsyat walau kadang perjalanan yang dilalui banyak onak duri dan berliku. Jatuh, gagal dalam kehidupan itu biasa. Yang luar biasa adalah ia mampu bangkit dari kegagalan. Dan harapan, mimpi, visi itulah yang akan memberikan energi untuk bangkit dan terus berlari.

Kedua, Usaha. Itulah yang dilakukan oleh Ibunda Hajar. Ia tidak duduk termangu. Menunggu air turun dari langit. Menunggu keajaiban tanpa usaha. Ia melakukan semua upaya yang bisa ia lakukan. Bahkan sampai batas maksimal kemampuannya. Jadi mempunyai mimpi atau visi saja tidak cukup harus ada usaha. Harus ada action. Itulah yang Allah perintahkan dalam Alquran. Jika sholat sudah selesai dilaksanakan maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah rezeki Allah.

Janganlah seperti orang Yahudi yang berkata kepada Nabi Musa as, wahai Musa pergilah engkai dengan Tuhanmu untuk berperang. Aku menunggu di sini. Apakah Rasul mendapatkan kemenangan dalam dakwahnya tanpa usaha. Tidak. Rosul berlelah-lelah. Rosul berdarah-darah. Bahkan rosul pernah diboikot dan hampir dibunuh. Kenapa Rosulullah tidak berdoa saja, ya Allah menagkan dakwah ini. Jadikan penduduk Mekah dan Madinah beriman kepadaMu. Setelah itu kemudian beliau tidur dan bersantai? Karena Allah SWT memerintahkan beliau untuk berusaha dan berusaha. Wahai orang yan berselimut. Bangunlah, dan beri peringatan.

Ketiga, tawakal. Berpasrah diri. Menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Dia lah yang akan menentukan hasil dari kerja dan usaha kita. Persoalan hasil itu dari mana biarlah itu menjadi rencana Allah SWT. Kita tidak tahu dan memang tidak pernah diberi tahu dari mana kesuksesan akan kita dapatkan. Apakah Ibunda Hajar diberitahu Oleh Allah bahwa air yang ia cari akan keluar dari kaki putranya Ismail? Tidak. Sama sekali tidak. Bahkan air tersebut tidak berada pada jalur ia bolak-balik antara shofa dan Marwa. Artinya apa? Lakukan dan lakukan saja apa yang Allah perintahkan. Mencari rezeki. Mencari keutamaan. Mencari kesuksesan. Biarlah Allah yang menentukan dari mana rezeki dan kesuksesan itu Dia berikan.

Rezeki dan kesuksesan tidak harus sejalan dengan apa yang kita lakukan. Dengan apa yang kita usahakan. Kita berusaha dengan cara A. Tapi boleh jadi Allah SWT memberikan hasil itu dari arah yang berbeda. Dengan cara B.

Air zam zam yang keluar dari bawah kaki Ismail, itulah keajaiban yang Allah berikan kepada Ibunda Hajar. Keajaiban yang diberikan setelah usaha maksimal yang dilakukan olehnya. Demikian pula dengan kita. Jangan pernah berhenti untuk berusaha menggapai mimpi. Jangan pernah berhenti untuk bergerak. Lakukan saja, karena keajaiban akan menyapamu. Dari arah yang tidak pernah kamu sangka. Dari arah yang tidak pernah Kamu duga.***