Pendidikan Keluarga, Pondasi Membangun Karakter Bangsa

Sebuah bangsa yang kuat akan lahir dari keluarga yang kuat. (hm.. bener ga ya?) coba kita perhatikan, kalau dalam satu RT keluarga yang menghuninya hampir semuanya amburadul, tidak punya etika, satu sama lain saling curiga, saling menjelekkan dan menjatuhkan. Kebayang kan RT itu bagaimana. Lha, kalau semua RT begitu. Bagaimana RW-nya. Kalau semua RW-nya juga kacau balau? Bagaimana Kelurahannya. Kalau …, Terusin sendiri deh. panjang kalau ditulis semua mata rantainya di sini. Saya tulis ujungnya aja deh. Ujungnya apa? Kalau semua provinsi masyarakatnya rusak, maka bangsa ini akan hancur dan tinggal nunggu kebangkrutannya. (Perusahaan kali, bangkrut!).

Tapi emang begitu. Coba kalau pengelola negara ini terbiasa korupsi. Berapapun anggaran negara dinaikkan tidak akan berefek pada peningkatan kesejahteraan rakyatnya. Kagak ngaruh, begitu kira-kira kata orang betawi. Tidak ada rasa aman. Karena kejahatan di mana-mana. Hukum dan Hakim hanya berpihak pada siapa yang punya uang dan kekuasaan. Kalau tidak ada rasa aman, siapa yang mau berinvestasi. Kalau tidak ada yang investasi. Tidak ada yang mau mendirikan usaha. Maka roda ekonomi dijamin macet. Cet..cet..! Kalau sudah macet. Ya Mogok. Kalau sudah mogok. Masuk bengkel. Mending kalau masih bisa diperbaiki. Kalau ga? Ya jadi barang rongsokan. Atau paling bagus dijual murah. (Emangnya mobil!)

Indonesia mah nggak begitu-begitu amat! Amat aja gak begitu. He he, bercanda. Maksudnya mudah-mudahan Indonesia yang kita cintai ini masih lebih baik dan masih ada harapan. Karena masih banyak orang yang baik yang peduli pada pendidikan keluarga. Kembali kepada Keluarga. Jadi, keluarga mempunyai posisi penting dalam pembangunan karakter sebuah bangsa. Membangun sebuah bangsa. Membangun sebuah peradaban. Ya, mulai dari unit terkecil ini, yaitu keluarga.

Membangun keluarga yang kokoh tidak akan terlepas dari proses pendidikan yang diberikan dalam keluarga tersebut. Bukankah Allah swt sudah mengingatkan agar kita senantiasa menjaga diri dan keluarga dari sisksa api neraka. (QS:66:6). Jadi apa artinya? Artinya proses pendidikan harus dimulai dari keluarga. Siapa yang bertanggung jawab? Ya orang tua. Ayah dan Ibu. Bukan hanya Ibu saja. Bukan hanya Ayah saja. Keliru besar kalau ada anggapan bahwa urusan pendidikan keluarga urusan ibu saja. Semua harus bekerja sama. Berbagi peran. Saling melengkapi dan saling menutupi. Walaupun sebagai seorang pemimpin. Kepala keluarga. Seorang ayah akan diminta pertanggung jawaban di hadapan Allah swt.

Jadi, apa yang harus dilakukan dalam proses pendidikan di keluarga. Agar keluarga kita menjadi salah satu keluarga yang menopang kekokohan bangsa ini. Pertama, berikan nama yang baik untuk anak-anak kita. Pastikan mereka bangga dengan nama yang sandangnya. Karena nama itu adalah Doa. Karena nama itu akan menjadi motivasi bagi anak untuk mewujudkan doa dan harapan orang tuanya.

Kedua, ajarkan anak-anak kita nilai-nilai agama. Ajarkan mereka untuk mengenal Tuhannya. Mengenal nabinya. Ajarkan juga mereka adab-adab dan prilaku yang baik sesuai dengan tuntunan Alah SWT dan RasulNya. Jangan sampai dihari akhir nanti mereka berteriak:”Ya Tuhan, kami tidak pernah diajarkan orang tua kami mengenal-Mu. Kami tidak pernah diajarkan orang tua kami untuk dekat dengan-Mu! Kami tidak rela dimasukkah kedalam neraka sendirian, tanpa orang tua kami ikut serta.” (betapa sedihnya kalau itu terjadi.)

Ketiga, pastikan anak-anak kita mendapat lingkungan yang baik. Sekolah yang baik. Teman-temen yang baik. Bukankah Rasulullah mulia mengajarkan,”Seseorang diukur berdasarkan agama temannya, maka hendaklah seorang diantara kamu melihat siapa yang ia jadikan teman.” (Kira-kira teman anak kita siapa ya?)

Keempat, nah ini penting. Sangat-sangat penting. Hm.. apa gerangan? Saya yakin Anda sudah tahu. Betul! Keteladanan. Berikan contoh. Berikan teladan. Untuk anak-anak kita. “Nak, ayo sholat dulu!” Lha Bapaknya sendiri malah baca koran. Ibunya nonton Putri yang di Tukar. Weleh…weleh… akhirnya anaknya jawab,”Ogah ah. Aku lagi liat Shaun the Sheep”  (soalnya tiap ruangan ada TV-nya) Atau bagaimana berharap anaknya akan menjadi orang jujur kalau bapaknya tanpa malu melakukan korupsi. Korupsi dengan malu saja sudah salah. Apalagi korupsi tanpa rasa malu. Oalah…*tepuk dahi*. (KPK tambah banyak aja kerjaannya). Jadi kuncinya keteladanan. Satu kali memberikan contoh, lebih baik daripada seribu kata-kata.

Oke. Saya yakin. Anda. Semua kita. Ingin anak kita. Keluarga kita. Menjadi keluarga yang punya karakter yang kokoh. Prilaku yang baik. Karena dengan itulah, kita turut serta berkontribusi terhadap pembangunan karakter bangsa yang juga kokoh. Bangsa yang maju. Bangsa yang berwibawa. Bangsa yang dihormati dan disegani oleh bangsa-bangsa lain.***

Salam Sukses,

M. Furqon Zahidi  Motivator Edukasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s