Membangun Budaya Santun

“Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.” (HR Muslim).
Singkat tetapi mengandung makna yang amat luas. Panjang untuk dijabarkan dalam untaian kalimat. Itulah ungkapan hikmah yang keluar dari orang yang akhlaknya digambarkan sebagai Alquran berjalan. Rasulullah SAW mengatur hal-hal yang terkadang bagi kita merupakan hal yang sepele. Tetapi sesungguhnya bila diamalkan akan membangun sebuah budaya. Budaya yang mampu memberikan solusi bagi sebagian permasalahan yang ada di lingkungan kita.

Senyum. Sederhana memang. Tetapi dengan senyuman yang ikhlas yang kita berikan kepada orang lain,  akan menumbuhkan rasa aman sekaligus hormat terhadap kita. Kalau ini kita lakukan,  tentu tidak ada kelompok yang saling bertikai. Kelompok yang saling bermusuhan. Interaksi antarkita akan senantiasa diliputi oleh rasa kebersamaan, keramahan. Di manapun, keberadaan kita akan senantiasa disenangi dan hormati orang. Tegur sapa yang baik dengan didahului salam, tentu akan memberikan nuansa kedamaian kepada siapapun. Demikan Islam mengajarkan kepada kita. Islam sebagai agama yang membangun budaya santun. Budaya Damai.

Sekolah sebagai tempat mendidik dan melahirkan anak bangsa yang berkarakter santun tentu sangat berkepentingan dan harus berkepentingan untuk menumbuhkan budaya santun ini. Kita tentu berharap setiap siswa, anak-anak kita, akan mampu bergaul antarmereka dalam sebuah lingkungan yang memberikan keamanan dan kenyamanan. Lingkungan yang menjadikan mereka pribadi-pribadi yang santun. Di manapun. Kepada siapapun.

So, Apa yang harus dilakukan oleh sekolah? Tentunya sekolah harus dan wajib membuat program-program yang mampu membangun budaya santun ini. Program 4S. Senyum, Salam, Sapa, Santun. Dapat menjadi alternatif untuk itu. Masukkan dalam Rencana pembelajran Guru. Buat afirmasi dan tempel di tempat-tempat yang terlihat oleh anak-anak.  Dan jangan lupa. Ini penting bahkan amat sangat penting. Teladan dari gurunya. Tunjukkan bahwa Anda, sebagai Guru, juga melakukan hal yang sama. Mendorong hal yang sama. Karena anak akan belajar dari lingkungannya. Anak akan belajar dari apa yang mereka dengar, lihat dan rasakan. Jadi sekali lagi, teladan. Satu contoh yang dilakukan jauh lebih bermakna daripada seribu kata-kata yang diucapkan.

Konflik.  Salah faham. Tentu bukan sesuatu yang di”haramkan”.  Pasti terjadi.  Namanya juga interaksi antar manusia. Beda kepala, beda pikiran. Beda pemahaman juga. Tetapi bagaimana menyelesaikan konflik tersebut dengan cara yang baik dan santun. Bagaimana anak diajarkan untuk memahami perbedaan dan mencari persamaan. Ketika anak mengalami konflik. Kemudian ia mampu menyelesaikan konflik itu dengan baik tentu ini akan menjadi sebuah pengalaman berharga bagi siswa.  Dan Yakinlah, tidak akan ada lagi kita saksikan tawuran antarpelajar. Perang antarkampung. Bentrokan antar kelompok. Hm.. Indonesia akan menjadi negeri yang aman dan damai.

Proses ini tentu tidak semudah membalik telapak tangan tetapi butuh upaya dan program yang serius (tapi ga usah tegang) sehingga secara alamiah pada akhirnya anak-anak kita akan terbiasa dengan budaya ini. Membangun budaya Santun bukan hal yang baru. Tetapi akan terasa asing kalau kita tidak terbiasa atau tidak mau mebiasakan.***

Salam Sukses,

M. Furqon Zahidi Motivator Edukasi

ikuti saya di twitter@mfurqonzahidi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s