Dunia Pendidikan Tersandra Korupsi

Bukan rahasia lagi kalau anggaran belanja negara mengalami kebocoran di mana-mana. Sepertinya tidak ada instansi pemerintah yang seratus persen bersih kebocoran ini. Anggaran negara sekian ribu triliun sesungguhnya tidak semua terserap untuk kesejahteraan rakyat. Negara dipaksa harus “berbagi” dengan tikus-tikus berdasi yang rakus tanpa tedeng aling-aling menggerogoti keuangan negara.

Ya, korupsi demikian menggurita di negeri ini. Menjadi lingkaran setan yang sepertinya tidak ada pangkal dan tidak ada ujung. Celakanya, korupsi inipun telah pula masuk dan menggerogoti dunia pendidikan yang sejatinya bersih dari penyakit korupsi ini. Dunia pendidikan tersandra oleh korupsi. Tak berdaya. Berjalan tertatih-tatih, mencoba melepaskan diri dari jeratan gurita korupsi ini.

Betapa tidak. Anggaran pendidikan sebesar 200 triliun lebih  sesungguhnya amat sangat cukup untuk meningkatkan kualitas pendidikan negeri ini. Meningkatkan kualitas sarana pendukung seperti gedung sekolah, pusat sumber belajar, dan perangkat pendukung lainnya. Dan termasuk meningkatkan kualitas guru yang menjadi ujung tombak pendidikan itu sendiri. Tetapi sayang seribu sayang, jauh panggang dari api. Yang terjadi adalah semua berebut untuk menikmati keju anggaran ini. Dana bantuan pembangunan sekolah misalnya, seharusnya bisa terserap seratus persen untuk proses pembangunan gedung sekolah tetapi panitia pembangunan dipaksa harus mengeluarkan dana-dana siluman yang jumlahnya cukup besar. Untuk mencairkan dana tersebut . Untuk memberikan  “Ucapan terima kasih” kepada oknum pejabat tertentu. Dan pungutan lainnya yang diminta dengan tanpa malu. Kalau tidak dituruti, maka sekolah tersebut dipastikan akan “dimusuhi” dan dipersulit  untuk mendapatkan bantuan sejenis.

Untuk menjadi guru profesional pun. Jalan terjal harus dilalui. Sepertinya oknum pejabat dan petugas di dinas pendidikan di tingkat kecamatan dan kabupaten/kota tidak rela kalau guru-guru mereka menikmati kesejahteraan tanpa mereka ikut mencicipi. Jadilah calon-calon guru profesional ini menjadi sapi perahan mereka. Sedikit-sedikit uang. Ada pengarahan, diminta uang. Menyerahkan berkas, harus pake uang. Mengambil ini mengambil itu, pake uang juga. Hampir tidak ada kegiatan yang kaitannya dengan proses sertifikasi guru yang luput dari uang.  Buat mereka, para oknum tersebut, kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah.

Bagaimana pendidikan di negeri ini akan maju kalau mental seperti ini masih ada dalam diri pegawai yang katanya abdi negara. Bagaimana kita akan bersaing dengan negara-negara lain kalau pendidikan kita tersandra dengan prilaku korupsi manusia-manusia yang tidak punya rasa malu dan tidak bertanggung jawab.

Tetapi haruskan kita pesimis dengan kondisi ini? Tentu kita harus tetap optimis. Karena harapan itu masih ada. Minimal mulai dari diri kita.  Bagaiamana mendidik anak-anak kita untuk tidak menjadi manusia-manusia yang rakus akan harta dunia dengan menghalalkan segala macam cara. Kita didik anak-anak kita untuk pribadi-pribadi yang sukses tetapi tetap memilki kemuliaan akhlak. Meminjam istilah Pak Jamil Azzaini, menjadi pribadi Sukses Mulia.***

Salam Sukses,

M. Furqon Zahidi Motivator Edukasi

ngobrol, sharing ? ikuti saya di twitter@mfurqonzahidi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s