Hidup adalah Pilihan

Sahabat semua, Tuhan menciptakan manusia, kita semua, dalam bentuk yang sempurna. Ahsanit taqwim. Dia menganugrahkan kelebihan yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Sehingga, dengan kemuliaan tersebut, malaikat pun diperintahkan Allah swt untuk bersujud, menghormati nabi Adam a.s..

Disamping anugrah akal. Ilmu. Tuhan pun memberikan kita, kebebasan untuk memilih. Jalan kebaikan atau jalan keburukan. Maka Dia mengilhamkan kepada jiwa manusia (potensi) keburukan dan kebaikan. (QS : 91 : 8) Pilihan itu ada pada kita. Kita mau memilih yang mana. Maka keliru sekali kalau ada yang mengatakan “Saya mah emang takdirnya jadi copet.  Orang udah dari sononya keturunan maling.”  Sekali lagi, pilihan menjadi orang baik ataupun  orang jahat ada pada kita.

Ketika pilihan kita menjadi orang baik maka Allah SWT akan memudahkan kita. Membantu kita. Apalagi kita tidak hanya menjadi orang baik. Tetapi membantu orang lain menjadi baik. Tidak hanya berusaha untuk sukses. Tetapi juga menjadi perantara orang untuk meraih kesuksesan. Kalau istilah Guru saya, Jamil Azzaini, menjadi Makelar Rejeki.  Tidak hanya mengejar rejeki untuk diri sendiri tetapi juga bagaimana mempermudah orang untuk juga mendapatkan rejeki.  Semakin banyak kebaikan yang yang kita berikan kepada orang lain maka sesungguhnya tanpa kita sadari itu akan kembali kepada kita dengan jumlah yang jauh lebih banyak dari apa yang kita berikan. (percaya  ga percaya harus percaya hehehe)

Sebaliknya ketika kita tidak lagi cenderung kepada kebaikan. Menutup telinga dari ajakan-ajakan kebaikan. Nasihat. Bahkan terbiasa dengan perbuatan-perbuatan  buruk. Maka, sesungguhnya kita sedang menutup pintu hidayah dari Allah swt.

Apakah pilihan itu ada konsekuensinya? Tentu.  Orang yang memilih jalan kebaikan.  Senantiasa menebarkan manfaat untuk orang lain. Menjadi Makelar Rejeki buat orang lain. Maka ia termasuk orang yang beruntung.  Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya (QS:9:10).  Pilihan tersebut akan menjadikannya mulia di hadapan manusia dan terlebih lagi dalam pandangan Allah SWT.  Hidupnya menjadi lebih bermakna. Meskipun jasadnya sudah tiada, tetapi pikirannya, semangatnya, kebaikannya akan terus hidup dan dikenang orang sepanjang masa.

Coba kalau pilihan itu sebaliknya. (semoga tidak terjadi ya!) Kita lebih sering melakukan kerusakan. Berbuat hal yang merugikan orang lain. Lebih akrab dengan keburukan. Tidak peduli dengan orang lain. Yang penting diri sendiri senang. Menghalakan segala macam cara demi meraih kepuasan dan kesuksesan. Maka ketikapun itu berhasil ia raih. Sesungguhnya kebahagiaan dan kesuksesan yang ia miliki hanyalah kebahagiaan dan kesuksesan semu. Fatamorgana. Sebagaimana Tuhan mengingatkan “Dan Sungguh merugi orang yang mengotori jiwanya.” (QS:91:11)

Memilih jalan keburukan,  tidak menjadikannya mulia. Jangankan dalam pengadilan Tuhan. Di dunia pun ia akan menjadi orang hina. Berapa banyak orang yang cerdas. Pintar. Punya jabatan tinggi. Punya kekuasaan. Tetapi ia menyalahgunakan kenikmatan yang ia terima. Akhirnya toh masuk penjara. Hidupnyan pun tidak akan tenang. Keluarganya akan susah dikendalikan. Karena diberi nafkah dari harta yang haram.  Dan kebahagiaan hidup tidak akan pernah ia dapatkan.

So, menjadi apapun kita. Menjadi guru, karyawan, pengusaha, pejabat dan lainnya. Pastikan pilihan kita membawa keberuntungan di dunia dan akhirat. Menjadi Sukses sekaligus Mulia.  Menjadi orang bahagia sekaligus dirindukan surga. Keren…***

Salam Sukses,

M. Furqon Zahidi Motivator Edukasi

sharing/berbagi dengan saya di twitter@mfurqonzahidi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s