Malaikat Kecilku

Sahabat, mana yang lebih sulit meminta maaf atau memaafkan?  Boleh jadi jawabannya bisa berbeda-beda. Tetapi seringkali memaafkan jauh lebih sulit ketimbang meminta maaf. Bahkan untuk hal yang boleh jadi sepele. Pengalaman saya mungkin pernah Anda alami semoga ada pelajaran berharga yang bisa kita petik.

Hari itu saya pulang dari kantor cukup sore. Hari itu memang “spesial”. Pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor cukup banyak dan cukup menyita energi. Itulah sebabnya rasanya capeeee banget. Biasanya sampai dirumah, setelah istirahat, saya bersama istri menyempatkan diri untuk menemani belajar anak-anak kami yang masih duduk di bangku TK dan SD.

Entah kenapa, malam hari itu, anak pertama saya “berulah”. Ia tidak segera menyiapkan buku pelajaran yang akan dipelajari malah “berantem” sama adiknya. Kontan saya yang memang sudah cape dan sudah berusaha untuk menemani belajar mereka, jadi marah.

“Baik, Kalau anak-anak tidak mau bekerja sama dengan Ayah. Ayah juga tidak mau kerja sama dengan anak-anak. Silakan belajar sendiri!” Kata saya dengan nada suara agak tinggi. Saya tinggalkan mereka dan malam itu saya tidak menemani mereka belajar dan tidak berbicara sepatah katapun. Saya memilih untuk rebahan sambil baca buku.

Beberapa saat kemudian, Anak pertama saya menghampiri saya. Ia menatap saya,”Ayah, Kaka minta maaf ya. Tadi Kaka udah buat Ayah marah.” Katanya sambil mengulurkan tangan kepada saya.

Karena Saya masih marah saya tidak langsung menjawab dan tidak juga menerima uluran tangan anak saya. Saya diamkan dan tetap tanpa berbicara.

Anak saya berbalik dan berjalan ke arah Ibunya,”Bunda, Ayah ga mau maafin aku. Aku udah minta maaf, ayahnya diam aja.” Katanya melapor.

“Sabar ya Kak, Ayah butuh menenangkan diri dulu. Nanti juga Ayah akan memaafkan Kaka. Sudah, sekarang Kaka belajar sama Bunda aja ya,” Istri saya mencoba menenangkan.

Saya pun tertidur dan akhirnya malam itu tidak sempat menemani anak-anak belajar.

Tengah malam saya terbangun. Istri dan Anak-anak saya sudah terlelap. Saya ingat kejadian sebelum tidur. Saya menyesal sekali kenapa tidak segera “mengalah” dan memaafkan anak saya dan menemani mereka belajar. Mengapa sulit sekali memberi maaf. Saya tatap anak pertama saya. Tidurnya begitu lelap. Tetapi mungkin ia membawa tanya yang teramat besar. Mengapa ayahnya tidak mau memaafkan dia. Tak terasa bulir-bulir hangat menetes membasahi pipi saya. Ya Allah mengapa saya begitu egois. Mengapa saya tidak bisa memberi maaf untuk masalah yang mungkin sangat sepele. Padahal kekasihMu Muhammad saw pernah disakiti  dan diperlakukan lebih buruk dari yang saya alami. Tapi beliau selalu memberi dan membuka pintu maaf. Anakku, maafkan ayah Nak, bisikku lirih.

Esok paginya, ketika dia bangun segera saya hampiri dan saya peluk dia, “Kaka, Ayah minta maaf. Tadi malam ayah tidak langsung memaafkan Kaka. Ayah janji tidak mengulangi lagi. Tanpa Kaka minta Ayah sudah memaafkan Kaka. Tapi Kaka maafin ayah Kan?”

Ia menatap saya sejenak kemudian mengangguk.  Saya peluk ia kedua kalinya dan tak  tak terasa butiran bening bergelayut di kedua matanya saya. “Ya Allah terima kasih engkau telah mengingatkan aku melalui malaikat kecilku ini.”***

Salam Sukses Mulia,

M. Furqon Zahidi Motivator Edukasi

berbagi dengan saya di twitter@mfurqonzahidi

Foto Anak-anakku : Faza Fauzan Azhima, Fadlan Ramadhan Mubarok, Farras Adhwa Ghaziya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s