Berharap Dunia Pendidikan Tanpa Tawuran Pelajar

stop tawuranKomisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mencatat 147 kasus tawuran dengan korban jiwa sebanyak 82 orang. Angka ini meningkat dibanding tahun 2011 dengan 128 kasus (detik.com 21/12). Data ini sungguh sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, sekian puluh orang mati sia-sia. Padahal mereka adalah usia produktif. Usia yang seharusnya mampu memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan bangsa dan negara di masa depan.

Jika kondisi seperti ini dibiarkan terus terjadi maka bangsa ini akan kehilangan satu generasi bahkan lebih dari itu. Akan kehilangan calon-calon pemimpin masa depan. Apa yang bisa diharapkan dari anak-anak yang dari hari ke hari melakukan tawuran. Bahkan tidak segan untuk membunuh lawannya. Dan terkadang korbannya adalah anak-anak yang tidak tahu menahu dan tidak pernah terlibat dalam tawuran tersebut. Tragis dan menyedihkan!

Masyarakat tidak kalah geram dengan aksi tawuran tersebut. Jalanan bukan lagi menjadi tempat yang aman. Jalanan menjadi ajang “pertempuran” yang siap memangsa siapapun termasuk para pengguna jalan. Tidak sedikit mobil yang kebetulan lewat dan terjebak di “medan perang” tersebut harus hancur oleh ulah oknum-oknum pelajar tersebut.

Siapa yang harus bertanggung jawab. Semua kita harus bertanggung jawab utamanya pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan regulasi pendidikan.

Sudah banyak masukan dari para pakar dan pemerhati pendidikan untuk memperbaiki kondisi seperti ini. Saya mencoba memberikan urun rembuk terkait solusi mengikis aksi tawuran pelajar.

Pertama, Internalisasi nilai-nilai agama. Internalisasi nilai agama berbeda dengan penambahan jam pelajaran agama. Internalisasi nilai agama adalah upaya memasukan nilai-nilai agama dalam seluruh aspek kegiatan pembelajaran dan pembinaan siswa. Semua guru, tidak hanya guru agama, wajib mengajarkan nilai-nilai agama dalam proses pembelajaran di Kelas. Guru IPA ketika mengajarkan materi tentang makhlik hidup bisa memasukkan nilai-nilai tentang syukur. Misalnya mensyukuri nikmat yang Allah swt berikan berupa fisik yang sempurna dengan cara menjalankan perintah-Nya, banyak berbuat baik dan tidak melakukan kegiatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Nah, guru bisa masuk pada nasihat tentang tawuran yang jelas merugikan diri sendiri dan orang lain. Tawuran adalah salah satu bentuk orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah swt.

Kedua, sekolah sebagai institusi pendidikan harus memberikan beragam kegiatan yang positif yang dapat menyalurkan dan mengembangkan bakat sekaligus energi siswa sehingga mereka tidak sempat lagi berpikir untuk melakukan aksi tawuran. Mereka asyik dengan kegiatan sekolah. Sekolah menjadi tempat yang menyenangkan sehingga mereka betah berlama-lama di sekolah. Sekolah Islam terpadu sejak awal berdirinya sudah menerapkan jam sekolah sampai sore yang di kurikulum 2013 ini baru diwacanakan dan bagian solusi yang dibuat pemerintah. Tentu, tidak sekedar sampai sore atau panjang jam belajarnya tetapi harus diimbangi dengan suasana belajar yang menyenangkan. Kegiatan yang menyenangkan. Karena sesuatu yang menyenangkan pasti tidak akan menjadi beban.

Ketiga, bangun kedekatan guru dengan siswa. Suasana hangat dan akrab. Tanpa menghilangkan ihtirom atau rasa hormat terhadap guru. Guru tidak menempatkan diri sebagai seorang raja yang harus selalu diturut. Tidak boleh diprotes. Tidak bisa salah dan tidak boleh salah. Harus dibangun suasana dimana siswa merasa terbuka dengan gurunya. Mereka tidak segan untuk bertanya atau sekedar curhat masalah pribadinya. Guru Harus menempatkan diri sebagai sahabat yang mampu masuk ke dunia mereka sebelum menghantarkan dunia kita kepada mereka. Tentu saja keteladanan menjadi kunci yang sangat ampuh untuk menjadikan siswa seperti apa yang diharapkan.

Keempat, Keluarga sebagai pondasi utama harus juga membangun suasana harmonis. Hubungan yang hangat akan sangat membantu anak-anak meningkatkan kepercayaan diri. Ketika anak-anak kita menghadapi masalah di sekolahnya maka sejatinyalah kita sebagai orang tua harus hadir menjadi orang yang mampu memberikan semangat, dorongan dan motivasi. Sehingga anak tidak mencari pelarian di luar. Di jalanan. Yang tentu saja tidak menyelesaikan masalah malah melahirkan masalah baru. Tawuran salah satunya.

Kita berharap tawuran, apapun alasan dan latar belakangnya, bisa dikikis habis dari dunia pendidikan kita. Kita tidak ingin mendengar lagi nyawa melayang sia-sia. Kita berharap pendidikan di Indonesia dapat menjadikan anak-anak bangsa yang cerdas dan berakhlak mulia. Semoga.***

2 thoughts on “Berharap Dunia Pendidikan Tanpa Tawuran Pelajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s