Sekolah Para Juara

anak juaraJeng, anaknya rangking berapa?” tanya seorang ibu setengah baya setelah mengambil rapor anaknya.

“Anakku ranking pertama,” Jawab temannya dengan sumringah.

Jeng beruntung ya,” katanya lagi setengah mengeluh.

Emangnya Kenapa?”

“Boro-boro dapat juara. Rankingnya aja  25. Padahal siswa di kelasnya Cuma 30 anak.” Katanya tanpa bisa menyembunyikan kesedihan hatinya.

Percakapan di atas mungkin saja pernah kita dengar atau bisa jadi kita sendiri pernah mengalaminya. Sepintas, sepertinya apa yang dibicarakan kedua orang tua tersebut wajar dan tidak terlalu berlebihan.

Tentu, setiap orang tua mengingingkan yang terbaik untuk anak-anaknya.  Tidak salah. Bahkan seharusnya seperti itu. Permasalahannya adalah ketika definisi terbaik itu hanya diukur dengan sederet angka-angka. Hanya ditentukan oleh rangking berapa di sekolahnya.  Akhirnya tidak sedikit orang tua yang terjebak dengan pengertian bahwa anak cerdas itu kalau ia mendapatkan rangkin satu. Hanya itu. Tidak kurang tidak lebih.

Setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda.  Sebut saja Afifah. Ia terkenal dengan sebutan anak jenius. Tidak satu pelajaran pun, dalam ulangan harian maupun ulangan akhir semester, yang nilainya tidak sempurna. Kalau saja, sekolah tidak ingin dianggap berlebihan maka mungkin nilai di rapornya 10 semua.

Ahmad lain lagi. Dalam akademik ia biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Tidak pernah sekalipun ia mendapatkan rangking 3 apalagi rangking 1. Baginya, itu hanya mimpi.  Mendapat nilai 7 dalam ulangan harian dan ulangan akhir semester, itu sudah luar biasa. Itu karena saking jarang dan susahnya ia meraih nilai tersebut. Tetapi dalam setiap pemlihan ketua kelas atau ketua kelompok namanya selalu muncul dan mengalahkan teman-teman yang lainnya. Ia memang sangat disenangi oleh teman-temannya. Sifatnya periang, humoris dan sering membantu temannya yang membutuhkan bantuan.  Kepemimpinannya paling menonjol di antara teman-teman yang lain.

Lain lagi dengan Kamila. Ia juga biasa di akademik. Ia jarang terpilih dalam pemilihan ketua kelas. Tetapi namanya cukup populer di sekolahnya. Betapa tidak, tulisannya kerap kali muncul di majalah dinding sekolah dan majalah sekolah. Entah itu cerpen, puisi, ataupun tulisan lainnya. Beberapa piala dan penghargaan ia raih dalam perlombaan menulis mulai tingkat kota/kabupaten, propinsi sampai tingkat nasional.  Ia dijuluki wartawan cilik.

Afifah,  Ahmad, Kamila. Semua bersekolah di sekolah yang sama. Mereka mendapatkan perlakukan yang sama. Semua prestasi yang mereka raih diberikan apresiasi dari sekolahnya. Baik yang akademiknya bagus. Kepemimpinannya yang menonjol.  Ataupun bakat menulisnya yang tajam. Mereka semua adalah juara. Sebagaimana teman-temanya yang lain pun berprestasi di kecerdasan masing-masing. Tidak heran sekolah itu senantiasa mendapatkan prestasi dan penghargaan.  Sederet medali dan piala terpajang di kantor sekolah tersebut. Ada medali emas olimpiade matematika. Medali emas taekwondo dan renang. Juara lomba mengarang. Juara Speech contest.  Juara hafalan Alquran. Juara lomba nasyid. Juara lomba futsal. Dan sederet prestasi lainnya.

Sekolah tersebut memberikan ruang yang seluas-luasnya untuk setiap kecerdasan anak. Guru-gurunya pun mengajar menyesuaikan kecerdasan anak-anaknya. Prinsip sekolah adalah tidak ada anak yang bodoh. Semua anak adalah cerdas. Semua anak bisa menjadi juara.  Maka tak heran sekolah itu terkenal dengan sebutan Sekolah Para Juara.***

Salam Sukses,

M. Furqon Zahidi Motivator Edukasi

twitter@mfurqonzahidi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s