Carilah Masalah

masalahBeberapa waktu yang lalu, ketika saya berkunjung ke Pesantren Gontor Ponorogo ada ungkapan menarik dari salah seorang pengurus yang  menyambut kami. Masalah, menurut beliau, justru menjadikan pesanren ini menjadi besar. Beliau mengatakan bahwa setiap hari kami harus berusaha memecahkan masalah. Kalau tidak ada masalah maka kami harus mencari apa masalah yang bisa kami pecahkan. Jadi tugas kami mencari masalah. Kami tertawa pada saat itu. Kami pikir lucu. Kok manajemen kerjaannya nyari masalah. “ Bukannya enak kalau tidak ada masalah.” Seloroh kami waktu itu.

Biasanya kita berusaha menghindari dari masalah dan boleh jadi berharap kita tidak pernah menghadapi masalah. Kita lebih senang berada di Zona Nyaman. Sudah PW alias Posisi Wuenak.

Barangkali sepintas lalu sepertinya benar. Tetapi hati-hati. Berada di Zona Nyaman secara terus menerus akan menjadikan kita kehilangan ketajaman dalam berkreatifitas. Ide-ide kita tidak lagi bernas. Ide-ide kita tenggelam dalam sebuah rutinitas yang memilukan. Kita terjerembab dalam lembah kejumudan. Hiks…hiks…

Sahabat, ternyata masalah justru menjadikan kita kuat. Menjadikan kita lebih dinamis. Membuat darah kita menjadi lebih merah sempurna. Setiap hari selalu ada yang baru. Setiap hari selalu ada solusi yang kita temukan dan itu membuat kita semakin kaya. Kaya dengan berbagai macam solusi permasalahan. Kita tidak mudah menyerah dengan keadaan. Kita selalu menjadi lilin ditengah kegelapan. Kita selalu menjadi bagian solusi. Karena daripada menyalahkan kegelapan lebih baik kita menyalakan sebuah lilin kecil dan mengajak yang lainnnya melakukan hal yang sama. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang terbiasa menghadapi masalah. Orang yang tidak lari dari masalah.

Lihatlah orang-orang yang hidupnya sukses. Lihatlah bagaimana mereka menajdikan masalah demi masalah sebagai anak tangga untuk meraih kesuksesan. Meraih mimpi dan cita-cita mereka. Sebut saja Jamil Azzaini. Seorang trainer sukses. Ia terlahir dari sebuah keluarga miskin. Bahkan, menurutnya, keluarganya adalah keluarga termiskin kedua. Karena yang pertama adalah Hamdan ATT. Lho Hamdan ATT? Coba aja simak lirik lagunya “Akulah orang rermiskin di dunia…” (hehehe)

Tetapi kemiskinan tidak menjadikan seorang Jamil Azzaini berhenti untuk meraih mimpinya. Kemiskinan adalah masalah tetapi tidak menjadikan ia berhenti melangkah. Tidak menjadikan ia berhenti berlari. Justru masalah demi masalah yang ia hadapi menjadikannya lebih kuat dan ia membuktikan itu semua. Ia sekarang menjadi seorang trainer sukses. Pengalaman hidupnya yang pahit justru menjadi kekuatan materi trainingnya. Namanya berkibar dalam dunia training. Berbagai tempat pernah ia kunjungi bahkan sampai ke mancanegara. Apakah ia berhenti? Tidak ia terus melangkah dan berlari untuk mewujudkan impian hidupnya.  Ia tidak berhenti dalam zona nyaman. Ia terus menjadi inspirasi. Inspirator sukses mulia.

Jadi, kalau kita merasa hidup kita sudah tidak ada masalah maka hati-hati. Segera cari masalah. Jadikan masalah itu sebagai penempa kedewasaan kita. Jadikan masalah itu menajdi kekuatan kita untuk meraih prestasi terbaik dalam hidup kita. ***

Salam Sukses,

M. Furqon Zahidi Motivator Edukasi

twitter@mfurqonzahidi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s