Berikan dia Contoh!

jejak kakiJam di dinding masih menunjukkan pukul  Empat kurang seperempat ketika anak saya yang pertama, Faza, membangunkan saya,”Ayah mau sahur nggak?”katanya sambil menepuk punggung saya.

“Mau Kak,” jawab saya sambil mengucek mata. Saya pun segera bangkit dan cuci muka untuk mempersiapkan makan sahur. Kamipun makan sahur berdua, kadang bertiga dengan istri saya kalau sedang tidak berhalangan.

Begitulah aktifitas itu kami lakukan. Kadang saya yang membangunkan anak saya atau sebaliknya. Itu terjadi setiap Senin dan Kamis menjelang menjelang sahur.

“Kakak,  kenapa puasa Senin Kamis terus?” Tanya saya suatu ketika,”Kalaupun nggak puasa, nggak apa-apa. kan sunnah.”  Pertanyaan itu saya ungkapkan karena saya ingin menegaskan tentang hukum puasa Senin-Kamis. Saya tentu tidak ingin ia merasa terbebani dengan aktiftas tersebut. Ia harus tahu bahwa Sunnah itu bukan wajib. Sehingga kalaupun sesekali  ia meninggalkan tidaklah menjadi dosa.

“Nggak apa-apa. Aku pengen ngasih pahala buat ayah sama Bunda,” jawabnya pasti.

Saya peluk dia. Saya bisikkan dia,”Kakak, Ayah bangga sama Kakak. Insya Allah pahalanya tidak hanya buat Ayah dan Bunda tapi juga buat Kakak. Terima kasih sayang.” Tak terasa butiran bening menggantung di sudut mata saya.

Apa yang anak saya lakukan tidak serta merta terjadi. Ia lahir dari sebuah proses. Awalnya ia tidak pernah melakukan puasa sunnah. Jangankan disuruh puasa. Menahan diri bersabar menunggu waktu makan bersama pun ia seringkali merengek.”Ayah, kapan makannya? Aku udah laper nih,” rajuknya.

Saya teringat pertama kali ia ikut-ikutan puasa sunnah. Awalnya ia bangun sebelum subuh dan melihat saya sedang menggoreng telur dan menghangatkan sayur. Ia menghampiri saya,”Ayah ngapain sih, jam segini udah masak?” Kebetulan memang saat itu saya yang menyiapkan makan sahur. Biasanya istri saya atau kami berdua.

“Ayah mau sahur. Besok kan hari Senin. Ayah mau puasa sunnah Senin Kamis.”

Ia manggut-manggut mendengar penjelasan saya.”O, gitu. Boleh nggak aku ikutan puasa?” tanyanya lagi.

“O, boleh. Kenapa tidak?” jawabku tersenyum.

Hari pertama puasa sunnah jadi “ujian berat” buat dia. Ia hanya kuat sampai jam zuhur.  Hari berikutnya terus bertambah sampai ashar dan akhirnya ia kuat sampai maghrib.

Saya tidak menyuruh apalagi memaksa  untuk melakukan puasa sunnah. Saya hanya menjelaskan tentang keutamaan puasa sunnah Senin Kamis dan selebihnya saya melakukan dan memberikan contoh apa yang saya katakan. Ia melakukan dengan kesadaran sendiri. Bahkan , terkadang, saya sendiri yang khawatir ia memaksakan diri. Biasanya saya katakan,”Kakak,  kalau kakak tidak kuat atau pusing, boleh buka kapan aja Kakak mau ya.”

“Nggak kok, Aku kuat sampai maghrib. Biar dapat pahala.” Jawabnya polos.

Alhamdulillah, sampai sekarang ia tidak pernah tertinggal puasa Senin Kamis. Kalaupun saya sedang tidak puasa sunnah, karena ada tugas kantor keluar kota, ia puasa sendiri. Tanpa paksaan dan tanpa menjadi beban. Jadi, kalau kita ingin anak kita atau orang lain melakukan sesuatu yang kita inginkan maka berikan contoh dari diri kita sendiri.  Karena satu contoh lebih baik daripada seribu kata-kata.***

Salam Sukses,

M. Furqon Zahidi Motivator Edukasi

twitter@mfurqonzahidi

One thought on “Berikan dia Contoh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s