Peran Ayah

Bersama anak-anak saya di depan masjid di Rest Area, perjalanan liburan ke rumah nenek mereka.

Bersama anak-anak saya di depan masjid di Rest Area, perjalanan liburan ke rumah nenek.

Pada saat pembagian rapor sekolah, biasanya yang hadir ke sekolah adalah Ibu. Kalaupun ada ayah yang hadir, jumlahya tidak terlalu banyak. Ketika ditanyakan terkait hal tersebut, alasannya beragam. Ayahnya sedang tugas keluar kota. Ayahnya kerja. Ayahnya di rumah, istirahat. Dan beberapa alasan lainnya.

Dalam satu kesempatan saya pernah mewawancarai seorang Bapak, calon orang tua siswa. Ketika saya tanyakan siapa yang biasanya hadir di acara-acara sekolah. Bapak tadi mengatakan bahwa biasanya ibunya anak-anak. “Yah, bagi-bagi tugas Pak, pekerjaan saya memang menuntut saya untuk pergi  gelap pulang gelap. Dan di hari Sabtu atau Minggu biasanya saya gunakan untuk istirahat di rumah,” ia mencoba menjelaskan. Ketika ditanyakan siapa yang menemani belajar di rumah jawabannya hampir sama. Ibunya. Jadi hampir tidak ada waktu dari Bapak tersebut berinteraksi dengan anaknya.

Mencari nafkah memang kewajiban seorang ayah. Tetapi tidak serta merta menggugurkan tanggung jawab seorang Ayah dalam mendidik anak. Keliru apabila pendidikan anak, di rumah maupun di sekolah, diserahkan hanya kepada Ibu. Ayah dan Ibu harus hadir dalam proses pendidikan, pertumbuhan dan perkembangan anak. Karena ada peran yang khas dari masing-masing yang tidak bisa di gantikan satu sama lain.

Dari seorang Ibu anak belajar  tentang kelembutan, kasih sayang, ketelatenan dan mengayomi. Dari seorang Ayah anak juga belajar tentang ketegasan dan keberanian, tanggung jawab dan sosok pelindung.

Apa yang harus dilakukan oleh kita , sebagai seorang Ayah? Pertama, Jadilah teman bermain anak-anak. Tidak perlu biaya mahal. Kalau anak kita masih kecil. Main kuda-kudaan atau gendong-gendongan bisa menjadi aktifitas yang mengasikkan. Atau berolah raga bersama. Sekali waktu bermainlah berdua saja dengan masing-masing anak kita. Bercanda.  Bercengkrama. Jadilah sahabat tempat curhat dan curcol. Hal ini akan semakin memperkuat ikatan emosional dengan anak kita. Salah seorang psikolog pernah memberikan nasehat kepada saya. Kalau anak-anak kita mudah marah. Mudah tersiinggung. Boleh jadi ia jarang bermain dengan Ayahnya. Kalau itu terjadi, ajaklah ia bermain berdua saja. Itu salah satu  terapi untuk anak tersebut.

Kedua, Jadilah guru buat mereka. Ajarkan anak-anak  kita bagaimana meraih kesuksesan dan kemuliaan. Bekali mereka dengan ilmu.  Bimbing dan antarkan mereka untuk meraih cita-cita mereka tanpa melupakan Allah SWT.

Ketiga, berikan perhatian, kasih sayang dan cinta kepada anak-anak kita. Ketika mereka  sedang mengalami kesulitan atau kegagalan, hadirlah di samping mereka untuk menguatkan dan mendorong untuk bangkit. Ketika mereka berhasil. Berprestasi. Sekecil apapun. Berikan apresiasi. Berikan penghargaan. Peluk mereka. Katakan bahwa Anda bangga dengan mereka. Itu akan sangat berarti buat anak-anak kita.

Seorang teman bertanya kepada saya,”Saya tidak punya cukup waktu kalau harus bertemu setiap hari dengan anak saya. Pekerjaan saya tidak memungkinkan untuk itu. Terus bagaimana ?”

Sekali lagi, sibuk bukan alasan untuk kemudian tidak mempunyai waktu dengan anak. Kalaupun kita tidak bisa sering bertemu dengan anak-anak kita. Maka pastikan saat bersama dengan anak kita adalah saat yang berkualitas. Sedikit tetapi bermakna. Lebih baik lagi kalau banyak dan bermakna. Apalagi era sekarang kita bisa memanfaatkan media sosial. Facebook,  Twitter, Blog dan sebagainya.

Guru saya, Jamil Azzaini menceritakan bahwa kedua anaknya sekarang tinggal di Jerman.  Kebetulan salah satu anaknya  tersebut adalah murid saya waktu SD. (I’m proud of her) Tentu secara fisik beliau akan sangat jarang bertemu dengan kedua anaknya tersebut. Tetapi toh hubungan mereka. Komunikasi mereka tetap terjalin. Media sosial dimanfaatkan betul untuk tetap bisa hadir dalam kehidupan mereka. Ketika mereka liburan ke Indonesia. Beliau betul-betul men-setting waktu liburan untuk bisa bersama mereka. Selain memperkuat kebersamaan, beliau juga memberikan bekalan untuk untuk mereka meraih cita-cita.  Beliau, menurut saya, termasuk salah satu ayah yang berhasil dalam proses pendidikan anak-anaknya.

Akhirnya, semoga kita menjadi sosok Ayah yang bisa hadir dalam kehidupan Anak-anak kita. Bisa membuat bangga anak-anak kita. Dan ketika jasad kita sudah terbujur kaku, mereka, anak-anak kita, senantiasa mengantarkan untaian doa untuk kita.***

Salam Sukses,

M. Furqon Zahidi, Motivator Edukasi

Berbagi? ikuti saya di twitter@mfurqonzahidi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s