Suara Burung dan Ketidakjujuran

burung 2Kisah ini saya dapatkan ketika mengikuti sebuah pelatihan. Tersebutlah di sebuah perusahaan sedang mengadakan kegiatan pembukaan sebuah event besar. Para tamu undangan sudah hadir memenuhi ruangan. Mereka sangat antusias dan sangat menanti hadirnya Sang Bos pemilik perusahaan tersebut. Namanya sudah terkenal di seantero negeri. Kata-katanya selalu membakar semangat. Tak heran ia selalu di undang ke acara-acara seminar ataupun pelatihan.

Tampaknya hadirin sudah mulai gelisah karena sang Bos tidak juga muncul sementara waktu yang yang dijanjikan sudah molor satu jam dari seharusnya. Pantia kegiatan tak kalah paniknya. Mereka berusaha untuk menelpon Sang Bos, dan beberapa kali sang Bos menjawab sedang On The Way alias sedang di perjalanan. Karena tak kunjung tiba, sementara peserta sudah mulai kesal, Panitia berusaha menenangkan peserta.

“Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang saya hormati, mohon maaf atas keterlambatan ini. Bapak Direktur akan segera hadir. Kami sudah telepon, katanya beliau sedang dalam perjalanan. Agar Bapak ibu yakin saya akan telepon beliau sekali lagi dan akan saya perdengarkan langsung suara beliau lewat mikrofon ini.”

Setelah itu sang Panitia mengontak sang Bos. Sebagaimana sebelumnya jawabannya sang Bos sama,”Saya sedang On The Way.” Sebelum kontak di putus tiba-tiba saja terdengar suara kicauan burung yang tidak asing untuk sebagian peserta. Dan seketika itu juga gelak tawa memenuhi ruangan acara.

Beberapa waktu setelah kejadian tersebut, pamor sang Bos mulai menurun. Ia tidak lagi diundang mengisi seminar ataupun pelatihan. Anak buahnyapun sudah mulai tidak hormat. Perintah dari sang Bos sudah mulai diabaikan kalaupun dijalankan tidak pernah sepenuh hati.  Klien dan rekanan perusahaan satu persatu meninggalkannya. Dan kini sang Bos hanya bisa  meratapi kejatuhannya tanpa pernah tahu penyebabnya.

Apa sebenarnya yang terjadi? Ternyata hampir semua peserta yang hadir dalam acara di atas pernah diundang ke rumah sang Bos. Mereka tahu persis keberadaan burung-burung di rumah sang Bos. Suaranya yang khas, sepertinya memang memudahkan orang untuk mengingat bahwa suara burung itu adalah suara burung di rumah Sang Bos. Maka ketika, panitia memperdengarkan suara sang Bos dalam telpon dan di sana ada suara burung maka peserta tahu persis bahwa sang Bos tidak sedang dalam perjalanan tapi masih berada di rumahnya. Ya, sang Bos tidak jujur dan tanpa sadar memperdengarkan ketidakjujurannya di hadapan banyak orang.  Dan akhirnya ia harus membayar mahal ketidak jujurannya. Ia tidak pernah lagi dipercaya oleh orang.

Dalam pendidikan pun akan berlaku hukum sebab akibat. Sunnatullah. Guru yang tidak jujur akan ditinggalkan oleh anak didiknya. Ia tidak akan pernah menjadi guru hebat. Ia tidak akan pernah menjadi guru yang dirindukan. Karena ia sudah tidak mempunyai nilai di hadapan anak-anak didiknya. ***

Salam Sukses,

M. Furqon Zahidi, Motivator Edukasi

ikuti saya di twitter@mfurqonzahidi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s