Anak adalah Cermin Orang Tuanya

anak cermin orang tuaSeorang bapak mengeluhkan tentang prilaku anaknya yang mulai banyak bertingkah. Disuruh solat tidak mau. Disuruh ngaji ogah. Diingatkan supaya tidak membentak kepada orang tetap saja tidak mau dengar. Bapak ini dengan setengah putus asa berujar,”Bagaimana lagi Pak, segala cara sudah saya lakukan. Tetap aja anak ini tidak mau menurut. Saya sampe kesal dan hilang kesabaran.”

Persoalan bapak tersebut boleh jadi pernah dialami oleh sebagaian besar orang tua. Apalagi menghadapi anak yang mulai tumbuh remaja. Usia yang sudah mulai kritis dan merasa diri lebih benar. Usia yang dominan dengan keinginan untuk menampilkan eksistensi diri. Tetapi benarkah anak tidak mau patuh terhadap orang tua disebabkan oleh prilaku anak? Bijakkah kita menyalahkan anak?

Tentu tidak tepat dan tidak bijak memposisikan anak sebagai objek yang bersalah. Kondisi seperti ini sangat mungkin dipengaruhi oleh seberapa kuat pengaruh lingkungan sekelilingnya.

Ketika menghadapi kondisi seperti ini yangpertama kali perlu dilakukan adalah instrospeksi diri. Muhasabah. Sejauhmana kita bersikap seperti apa yang kita harapkan muncul dalam diri anak. Kita ingin anak kita rajin solat. Mari kita lihat diri kita sudahkah kita rajin solat. Kita ingin anak kita ngaji setiap selesai solat magrib. Lalu apa yang kita lakukan? Menonton TV, sinetron atau tayangan televisi lainnya? Ketika anak berkata kasar. Membentak. Kita marah dan menganggap anak tidak sopan dan durhaka kepada orang tua. Padahal seringkali kita melakukan hal yang sama kepada anak-anak kita. Kita sering marah-marah tanpa sebab. Sering membentak. Dan terkadang berkata kasar kepada anak-anak kita. Lebih parahnya lagi, kalau anak kita tidak mengerti mengapa ia di marahi, mengapa ia di bentak.

Alam bawah sadar anak akan merekam semua yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan. Jadi ketika ia sering melihat, mendengar dan merasakan prilaku negatif dari orang tuanya. Itulah yang ia rekam dalam otaknya. Rekaman itulah yang suatu saat, sadar atau tidak sadar akan ia keluarkan dalam bentuk sikap dan prilaku seperti di atas. Hanya menunggu waktu.

Jadi ketika ketika kita ingin anak berbuat baik, maka pertama kali yang harus kita lakukan adalah perbaiki diri kita. Jadilah teladan buat anak. Jadilah model yang baik buat anak. Yakinlah tanpa harus banyak berkata-kata anak-anak kita akan mengikuti apa yang kita inginkan.***

salam sukses,

M. Furqon Zahidi, Motivator Edukasi

ikuti saya di twitter @mfurqonzahidi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s