Merengek dan Menangis

merengekMerengek dan Menangis. Itulah senjata ampuh yang biasanya di gunakan oleh seorang anak ketika mempunyai keinginan. Entah itu makanan, mainan atau hiburan.

Ayah Bunda, mungkin pernah mengalami. Ketika sedang berjalan atau berbelanja di Mall. Anak kita ingin di belikan sesuatu, misalnya mainan, yang sebetulnya mainan itu kurang bermanfaat atau sudah memiliki yang hampir sama dengan mainan tersebut. Ayah Bunda sebenarnya tidak mau dan tidak setuju membelikan mainan tersbeut. Tetapi semakin lama, tangisan si adek semakin keras. Apalagi ditambah dengan aksi menarik baju atau tas yang dibawa oleh ayah Bunda. Bisa ditebak bagaimana perasaan ayah bunda. Ya, kesal. Jengkel. Malu, karena pasti orang-orang akan memperhatikan ayah bunda. Dalam kondisi seperti itu, sebagian orang tua akan mengambil jalan pintas. Apa itu? Menuruti kemauan anak. Daripada berisik. Daripada malu. Apa boleh buat.

Sikap yang berbeda, kadang juga terjadi. Orang tua tetap tidak menuruti keinginan anak. Tentu dengan berbagai alasan. Mungkin uangnya gak cukup atau alasan yang lain. Tetapi emosi sudah kadung memuncak saking jengkelnya. Apa yang kemudian dilakukan? Anak dicubit. Dijewer. Bahkan tidak sedikit yang dipukul dan diseret. Apakah anak jadi diam? Tidak, malah tangisannya semakin menjadi. Semakin keras tangisan anak, semakin meledak emosi orang tua. Dan akibatnya, cubitan, jeweran dan pukulan semakin sering dan semakin keras.

Dua-duanya tidak menyelesaikan masalah.

Apa yang sebaiknya ayah bunda lakukan ketika kondisi seperti itu?

Pertama, untuk pencegahan. Buatlah kesepakatan dengan anak sebelum pergi. Katakan bahwa, ayah bunda hanya membeli ini dan itu. Kalau ayah bunda menginginkan anak tidak membeli mainan. Maka katakan kepada anak,”Adek ayah dan Bunda, akan belanja ke supermarker. Bunda hanya membeli keperluan di rumah bulan ini. Kita tidak membeli mainan. Adek boleh beli makanan atau minuman tetapi satu macam saja. Tidak ada rengekan atau tangisan. “ Pastikan anak mengerti. Sampaikan alasannya dengan jelas dan mudah dipahami.

Kedua, bila tetap terjadi. Anak merengek dan menangis. Pastikan ayah bunda tetap tenang. Tidak emosi. Ingatkan anak dengan kesepakatan yang sudah dibuat, kalau sebelumnya sudah ada kesepakatan. Biarkan anak menangis. Buatlah kesan seakan ayah Bunda tidak terpengaruh dengan tangisan dan rengekan tersebut. Bahasa anak mudanya, cuekin aja. Lama kelamaan anak akan merasa capek. Dia akan berpikir ternyata rengekan dan tangisannya tidak berpengaruh apa-apa. Dia tidak mendapatkan perhatian dan apa yang ia inginkan. Akhirnya anak akan diam.

Dalam kondisi seperti itu segera hampiri dan peluk anak anda. Katakan,”terima kasih adek. Adek sudah diam. Tidak menangis dan tidak merengek. Bunda senang adek bisa bekerja sama.”

Kalau memang ayah bunda berniat membelikan sesuatu untuk menyenangkan anak, maka katakan,”karena adek sudah bekerja sama, Bunda akan memberikan bonus satu makanan untuk adek.” Kalaupun tidak, cukup peluk dan katakan,”Terima kasih, adek sudah bekerja sama dengan Bunda. Bunda sayang adek.”

Sekian, selamat mencoba. Silakan share kalau pengalaman ayah bunda ada yang lain. Semoga bisa bermanfaat untuk semua.***

Salam,

M. Furqon Zahidi, Motivator Edukasi

twitter@mfurqonzahidi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s