Bahagia Belajar

“Ayah, besok pagi bangunin jam empat ya,”

Itulah pesan anak saya, kelas 3 SDIT Ummul Quro Bogor, menjelang tidur. Wow… jam empat. Saat masih banyak yang masih terlelap. Ia dengan semangat bangun dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.

Jam baru menunjukkan pukul 05.30 ketika saya dan anak saya tiba di sekolah. Hari masih cukup gelap. Tapi ternyata sudah cukup banyak teman-temannya yang hadir.

Tidak ada wajah sedih apalagi menangis. Semua happy. Senang. Semua terlihat antusias dan semangat.

Kok bisa ya? Bisa. Sangat Bisa. Ketika anak sudah merasa nyaman. Merasa senang. Bahagia. Maka tidak ada aktifitas yang membuat mereka berat. Lihat aja, anak-anak sanggup bermain game dari pagi sampe siang. Bahkan sampe sore atau malam. Karena mereka senang.

Belajar pun demikian. Bangun suasana yang menyenangkan. Tumbuhkan rasa ingin tahu. Rasa penasaran. Berikan mereka pengalaman baru yang akan berkesan selama hidup mereka.
Continue reading

Advertisements

I Stand With Integrity

Sama seperti pelajar kelas 12 pada umumnya, aku juga berdebar-debar menyambut hari-hari ujian yang menentukan kualitas belajarku selama tiga tahun. Melelahkan dan memuakkan, tentu saja. Apalagi dengan nilaiku selama ini yang menjadi saksi bisu bahwa aku layaknya anak bahasa yang terdampar tak berdaya di ranah saintek.

Meskipun begitu, mana rela aku menghempas semua keringat ini dan menggantinya begitu saja dengan lembaran kunci jawaban yang bahkan menyalinnya saja bisa dengan mata tertutup? Tidak, terima kasih. Aku punya hutang budi yang sangat besar pada guru-guruku yang sudah menghabiskan ribuan jam menuang ilmu di ruang kelas, pada kedua orangtuaku yang menghabiskan jutaan jam bekerja untuk menafkahi dan membiayai kebutuhan akademikku, juga pada teman-teman seperjuanganku yang telah berjanji untuk lulus dengan metode yang paling terhormat: lulus dengan kemampuan sendiri dan tawakkal pada-Nya.
Continue reading