I Stand With Integrity

Sama seperti pelajar kelas 12 pada umumnya, aku juga berdebar-debar menyambut hari-hari ujian yang menentukan kualitas belajarku selama tiga tahun. Melelahkan dan memuakkan, tentu saja. Apalagi dengan nilaiku selama ini yang menjadi saksi bisu bahwa aku layaknya anak bahasa yang terdampar tak berdaya di ranah saintek.

Meskipun begitu, mana rela aku menghempas semua keringat ini dan menggantinya begitu saja dengan lembaran kunci jawaban yang bahkan menyalinnya saja bisa dengan mata tertutup? Tidak, terima kasih. Aku punya hutang budi yang sangat besar pada guru-guruku yang sudah menghabiskan ribuan jam menuang ilmu di ruang kelas, pada kedua orangtuaku yang menghabiskan jutaan jam bekerja untuk menafkahi dan membiayai kebutuhan akademikku, juga pada teman-teman seperjuanganku yang telah berjanji untuk lulus dengan metode yang paling terhormat: lulus dengan kemampuan sendiri dan tawakkal pada-Nya.
Continue reading

Advertisements